Financial Planning

Pilih Risk per Trade atau Bagi Porsi?

Pilih Risk per Trade atau Bagi Porsi?

Kita sudah paham bahwa salah satu bagian dari money management adalah diversifikasi alias pembagian dana ke beberapa emiten. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara membaginya?

Cara paling gampang ya dibagi rata atau bagi porsi, karena kita gak pernah tahu kan saham mana yang akan naik. Teknik bagi porsi ini, adalah dengan membagi dana sama besar ke beberapa emiten. Misalnya punya 100 juta, dibagi 10 saham maka masing2 saham dijatah 10 juta. Berapapun harga sahamnya pokoknya duit yang dikeluarkan adalah 10 juta. Terserah dapat berapa Lot. 

Cara lain adalah menggunakan Risk per Trade. Dengan sistem ini, kita hitung dulu berapa kerugian jika harga terkena stop loss. Nah, berapa RPT-nya dibagi dg berapa kerugian, muncullah jumlah lot yg dibeli. Contoh dana 100 juta, RPT 0,5% = 500rb. Saham ABCD kita rencanakan beli di harga 1000 dan stoplose di 900. Jadi resikonya:

1000 - 900 = 100

Maka jumlah lot yg kita beli adalah 500rb / 100 = 5rb lembar atau 50 Lot. Uang yg dikeluarkan adalah 50 x 100 x 1000 = 5 juta.

Keuntungan dan Kerugian

Keuntungan sistem bagi porsi adalah kita bisa mengukur dana kita ada berapa dan sudah punya berapa saham. Jika jatah masih ada, kita bisa cari saham baru lagi dan lagi hingga jatahnya habis. Sementara jika menggunakan RPT kita tidak tahu dg pasti dana kita masih cukup atau tidak untuk beli saham baru karena porsi beli tiap saham berbeda-beda tergantung resikonya. Mau beli juga harus dihitung dulu untuk tahu jumlah lot-nya.

Kerugian sistem bagi porsi adalah kita tidak tahu resiko yang kita hadapi berapa. Sebagai contoh kita targetkan 3 saham:

- ABCD buy 1000 SL 900
- DEFG buy 1000 SL 800
- HIJK buy 2000 SL 1950

Dengan bagi porsi dengan resiko per transaksi 0,5% dan per bulan 10% maka berarti kita bagi porsi jadi 20 saham atau 5 juta per saham

- ABCD : 5juta / 1000 = 5.000 = 50 Lot (5 juta)
- DEFG : 5juta / 1000 = 5.000 = 50 Lot (5 juta)
- HIJK : 5juta / 2000 = 2.500 = 25 Lot (5 juta)

TOTAL DANA: 15 juta

Dengan RPT 0,5% modal atau 500rb, kita mendapat:

- ABCD : 500rb / (1000-900) = 500rb/100 = 5.000 = 50 Lot (5 juta)
- DEFG : 500rb / (1000-800) = 500rb/200 = 2.500 = 25 Lot (2,5 juta)
- HIJK : 500rb / (2000-1950) = 500rb/50 = 10.000 = 100 Lot (20 juta)

TOTAL DANA: 27,5 juta

Eh ternyata skenario buruk terjadi dan semua saham kena stoplose. Mari kita hitung kerugiannya:

Sistem bagi porsi:

- ABCD : 50 Lot x 100 x 100 = 500rb
- DEFG : 50 Lot x 200 x 100 = 1 juta
- HIJK : 25 Lot x 50 x 100 = 125rb

TOTAL KERUGIAN : 1,75 juta

Sistem RPT :

- ABCD : 50 Lot x 100 x 100 = 500rb
- DEFG : 25 Lot x 200 x 100 = 500rb
- HIJK : 100 Lot x 50 x 100 = 500rb

TOTAL KERUGIAN : 1,5 juta

Anda lihat, dengan modal lebih banyak, RPT justru kerugiannya lebih sedikit karena resikonya terukur semua. Sekarang bagaimana jika ternyata skenario berjalan dengan baik. Anggap saja semua saham naik 10%

Sistem Bagi Porsi:

- ABCD : 50 Lot x (1000 + (10% x 1000)) = 5.500.000
- DEFG : 50 Lot x (1000 + (10% x 1000)) = 5.500.000
- HIJK : 25 Lot x (2000 + (10% x 2000)) = 5.500.000

KEUNTUNGAN : 16.500.000 - 15.000.000 = 1.500.000

Sistem RPT:

- ABCD : 50 Lot x (1000 + (10% x 1000)) = 5.500.000
- DEFG : 25 Lot x (1000 + (10% x 1000)) = 2.750.000
- HIJK : 100 Lot x (2000 + (10% x 2000)) = 22.000.000

KEUNTUNGAN : 30.250.000 - 27.500.000 = 2.750.000

Anda lihat? Keuntungannya pun lebih banyak daripada menggunakan bagi porsi. Makin besar prosentase keuntungan, maka makin jauh selisih antara sistem bagi porsi dengan sistem RPT